a life changing moment

pd08

skuad pd08 ugm januari 2017

Semenjak tahun 2014, ketika saya dilantik menjadi dokter umum, sudah terbersit di pikiran saya untuk mempersiapkan ke jenjang pendidikan lanjutan. Namun, persiapan ini mendapatkan tantangan  dari berbagai macam unfortunate event seperti tidak diakuinya Ujian Kompetensi Dokter Indonesia periode saya (diselenggarakan oleh AIPKI – Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia) oleh kolegium Ikatan Dokter Indonesia, sehingga harus mengambil ujian lanjutan untuk dapati diakui oleh IDI.

Bukan hanya kami harus ujian 2x. Secara konsekuensi, pelaksanaan internsip dokter pun menjadi molor 9 bulan.  Namun, pada akhirnya banyak yang bersyukur pelaksanaan internsip ini ditunda karena banyak yang menikah :p, menjadi anak magang di suatu departemen spesialisasi idaman, berhasil membesarkan usahanya sendiri, jalan-jalan ke luar negeri, ataupun bisa menganggur gak jelas karena gak tau mau ngapain (oke, ini sedih).

Ketika akhirnya menjadi dokter internsip, saya banyak belajar dari pendamping, dr Rizka Irfansyah dan dr Ari Eko, maupun dokter definitif tempat saya bekerja dalam melakukan penatalaksanaan kegawatdaruratan. Tentunya ini merupakan bekal yang baik untuk menjadi dokter umum mandiri kelak.

Setelah selesai internsip, saya mencoba merantau ke Kalimantan Timur, tepatnya di RSUD Balikpapan. Rumah sakit ini merupakan fasilitas kesehatan yang masih baru, gedungnya  bagus, dan cukup mewah untuk ukuran rumah sakit pemerintah. Kelas perawatan 3 di rumah sakit ini dibatasi hanya untuk 5 orang. Bahkan terdapat AC di seluruh kelas dan shower panas dingin :p. Saya sangat bersyukur bisa sempat bekerja di RSUD dan sangat merekomendasikan kepada teman-teman yang baru selesai internsip untuk paling tidak pernah bekerja di IGD rumah sakit milik pemerintah selama setahun.

Bekerja sebagai dokter umum memberi saya kesadaran, bahwa menjadi dokter umum itu membutuhkan kepintaran dan kejelian untuk menguasai ilmu kedokteran yang sangat luas paling tidak untuk mengenali kasus-kasus kedaruratan dan saya memahami keterbatasan saya atas kemampuan untuk hal tersebut. Dari kasus anak, obstetri ginekologi, bedah, penyakit dalam, saraf, mata, telinga, bahkan kejiwaan. I don’t know, it’s just too broad for meand I don’t have the ability to  be the jack of all trades, master of none.

Kembali ke persiapan untuk mendaftar sekolah, saya mempersiapkan ini sejak masa internsip karena ketika itu saya memperkirakan, sesibuk-sibuknya masa internsip, pasti lebih sibuk ketika sudah menjadi dokter definitif  dan biaya untuk ke Jawa sangat mahal hanya sekadar untuk tes acept dan paps.  Bertanya kepada senior yang telah masuk terlebih dahulu merupakan salah satu langkah awal untuk mencari tahu tentang seluk beluk departemen yang dituju. Saya berterimakasih kepada mas Dama yang banyak memberikan masukan mengenai persiapan dan hal-hal apa yang perlu dimaksimalkan. Persiapan jauh-jauh hari merupakan kunci. Teman saya Ahmad Ramdoni sudah khatam Salter sejak zaman koas, Mohammad Pradhana menyalurkan hobi bolanya bersama bagian anestesi sejak S1, ataupun Pangeran Akbar Syah yang telah menguasai kardiologi sejak masih TK.

Persiapan yang saya lakukan sejak internsip adalah mulai mengikuti simposium dan workshop berskala regional dan nasional, ujian AcEPT (Academic English Proficiency Test) dan PAPs (Potensi Akademik Pascasarjana) di UGM, serta mencari rekomendasi untuk mendaftar spesialis (minimal 2). Tes-tes seperti itu jangan dianggap sebelah mata karena juga diperhitungkan. Sebisa mungkin AcEPT 350 atau TOEFL 600 dan PAPs 650 atau mendekati (semakin tinggi semakin baik).

Alhamdulillah  diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan dokter spesialis di UGM. Mudah-mudahan bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk belajar dan kelak mengabdikan keilmuan kepada masyarakat. It’s just the beginning, tantangan ke depan akan semakin berat. Mengutip kata-kata teman saya TaufikIt’s a life changing moment.

Advertisements

A Superfood for Cardiovascular Health

I promised you in my last post that I would write about healthy foods later.

As a doctor myself, I often educate my patients that they should maintain healthy lifestyles for themselves.

Maam, you ought to exercise at least 3 times a week @ 20-30 minutes, eat balanced diet, lower your blood pressure, cease smoking, and keep a lean Body Mass Index

Actually, many sources, such as this, adds drinking in moderation as cardioprotectant and neuroprotectant. However, as a Moslem, I would not recommend moderate drinking as our method in maintaining a healthy heart.

Surely I would be in an awkward moment if I preach something I didn’t do. It is stated in the Holy Qur’an (2:44), Translation: Do you order righteousness of the people and forget yourselves while you recite the Scripture? Then will you not reason? 

Be the first person to benefit from new knowledge you acquire before sharing it with others – practice what you preach.

I know that it’s challenging for my profession, doctors (especially resident doctors), to find the time allocated for sleeping and eating healthily, let alone exercising, hahaha, but we are the role model for the society to be healthy.

I do not want – at least for me- my patients would tell me like this

I found your preaching is just an utter nonsense Doc, you are overweight (or underweight), smoking cigarettes, and your meal time is irregular.

I understand that some of you, 18-30 years of age, would argue

Hey, we are still young, chances are the only time we really worry about our heart is when we are going through a breakup, or trapped in a friend zone, or rejected by our beloved one 😛

You can always google “Takotsubo Cardiomyopathy” then 😀

As a matter of fact, more than one-half of young adults aged 18–24 have at least 1 coronary heart disease (CHD) risk factor and nearly one-quarter have advanced atherosclerotic lesions.

Heck, even having slightly elevated blood pressure in the mid-20s may increase the risk of heart trouble in the Middle Age. (Normal <120/80)

every choice you make today is also a choice for tomorrow

Okay, that’s enough for the introduction..

Do you know one of the best food for your cardiovascular health?

It is approved by The FDA in 1997 to claim that it could lower cholesterol level and may reduce the risk of heart disease.

In 2004 the United Kingdom Joint Health Claims Initiative (JHCI) allowed a cholesterol-lowering health claim for this food.

In 2008, a review stated that consumption of this food products significantly reduces total cholesterol and low-density lipoprotein cholesterol concentrations without adverse effects on high-density lipoprotein cholesterol or triglyceride concentrations.

It is The Oatmeal..

For most Indonesian people, oatmeal is not delicious, because it is not tasty at all (or anyep in Bahasa Jawa). You can find many good recipes for your oatmeal here, nevertheless I’m content with oatmeal + Milo in the morning.

If the FDA-approved health claim for this food still can not convince you, this randomized controlled clinical trial of oatmeal consumption vs noodle consumption on blood lipids of urban chinese adults with hypercholesterolemia founds that Total-, LDL-cholesterol and waist circumference decreased significantly in the oat group compared to the control while HDL-cholesterol decreased significantly in the control group versus the oat group.

In Sumarry, eating a bowl of oatmeal in the morning helps

  1. Lower Total Cholesterol and LDL-Level without adverse effects on HDL-C and triglyceride
  2. Lower waist circumference
  3. Lower weight: Oatmeal is a source of fiber. That means when you eat oats for breakfast, you’re going to feel full for a long time
  4. Lower blood pressure, by preventing atherosclerosis (hardening of blood vessel wall)

Thanks for reading, keep healthy..

Social Media, Exercise, and Healthy Lifestyles

Hello, it’s been a while since the last time I wrote in this blog. Actually, I miss writing randomly, and because now I have some time to spare, I decide to write about something very happening yet so healthy.

Nowadays, modern lifestyles give rise to social media exposure. Many people share their activities to their friends about travelling, eating, getting expensive stuffs, exercising, etc. I found that these phenomena are intriguing and interesting at the same time.

I will be focusing my post about modern healthy lifestyles…

When I was in my teen age, i didn’t really like sports. I was a thin boy with short stature. Exercising was not a trend back then and I just spent my time playing computer games and reading automotive magazine. I wish I were a more athletic teen, because a study conducted by Catherine L Davis, circa 2011, found that exercise improves executive function and achievement and alters brain activation in overweight children. Another study concluded that- this time is a peer reviewed systematic review- aerobic physical activities are positively associated with cognition, academic achievement, behavior, and psychosocial functioning outcome, although more rigorous trials is needed.

Contrary to popular belief that states an athletic person tends to get lower marks in school, it’s the opposite actually. If the athletic students study as hard as the nerds, chance he’ll get better scores on tests.

Since the social media era, I could get more knowledge about what my friends are doing for exercise. For example, my friend Raymond Andre Muzetta, he posted about his activities in the gymnastics, and asked me to join him to build a more imposing physique. Another friend of mine, Mr Pangeran Akbar Syah, is an avid runner. He often posts his running activity with Nike+ apps, with an average 5 kilometers distance in 25-30 minutes. No wonder he is also very smart.

I’m motivated by my friends exercises’ to stay in shape and to keep my mood up. Taufan Sugiharto and Afandi Amrullah, introduced cycling to me. I’m really enthusiastic with it, and slowly will become my hobby. Riding my bike in the morning from my house to Universitas Gadjah Mada and back to my house IS so refreshing.

Don’t forget to balance exercise with healthy foods. I will post about healthy foods later..

One of The More Eligible Bachelor

“Always opt for the hardest way”

It is been understood by the clinical rotation group of me, The R12, that the quotation above belong to a certain highly confident yet serious friend: Taufiqur Rakhim Aditra. A multitalented and highly motivated guy, Taufiq has achieved something that many people could only imagine.

Taufiq boasts a glittering curriculum vitae. In 2007, he got accepted in the Chemical Engineering of University of College London, beating thousands of applicants in a highly fierce entrance examination. Had he taken the opportunity, he would have been a handsomely paid young excecutive right now. Instead, pursuing the medical doctor degree at Universitas Gadjah Mada was the path he elected.

Already a mature man at the age of twenty six years old, He possesses many distinguished skill sets. One of them is his ability to learn something in a little time. Because of his swift learning process, he obtained the highest score in Advanced Trauma Life Support certification at Universitas Airlangga after read the manual book in only 3(!) days period.

Dedit, one of his nickname, is endowed with a capability to radiate positive aura to influence his peer to stay optimist and motivated. He joined the IELTS class on CILACS, aiming for a-9-score, the highest possible score on IELTS, and inspiring Ido and me to be more ambitious yet realistic.

Becoming a Cardiothoracic or Oncologic surgeon is one of his reverie. He is blessed with an aptitude to tackle problems even in their emergency circumtances. Furthermore, equipped with a very good academic competence, he intends to pursue a specialist qualification in the United States by taking United States Medical Licensing Examination in near future.

Taufiq, a devoted moslem, got the inspiration to pray 5-times-a-day in the mosque from his-soon-to-be father-in-law. A practice that, according to him, will help his journey in this world and the hereafter.

He can be followed on twitter @dedit_aditra and Facebook

also a guitarist

also a skillful guitarist!

Young Entrepreneurs Show! UGM 2014

the poster of YES_UGM 2014

the poster of YES_UGM 2014

Last week, a good friend of me came up with an idea to attend an event organized by students of Business and Economic Faculty of Universitas Gadjah Mada. He said that the event, a symposium about entrepreneurship, would give us a better understanding about how to build a start up from the scratch.

Deliberately wanting to obtain the principle of running a business empire, I looked for information of the event called Young Entrepreneur Show 2014. It is stated in the poster that Gita Wiryawan, Former Minister of Trading, and Sofyan Djalil, current Coordinator Minister of Financial Affairs, will be the keynote speakers. Some high profile entrepreneurs, such as Saptuari Sugiharto and Reza Nurhilman, would also share their invaluable experience.

The Young Entrepreneurs Show was held today, 08.30-18.00. The problem was Gita Wiryawan and Sofyan Djalil could not attend it. Since the duo, in my opinion, was the main attraction of the event, I could not help but felt a little bit dissapointed. Nevertheless, the show must go on.

The first session was given by an entrepreneur from Jepara. Starting from a cleaning service job at California Fried Chicken in 1997, Mr Nurul Atik is now the owner of Rocket Chicken, a fried chicken serving fast food restaurant, that had gone from 1 branch to 152(!) branches in just 4 years span (2010-2014).

Mr Saptuari Sugiharto, one of my favorite entrepreneur, was the speaker of the second session. He, humble and highly motivated, gave us a great new insight on how to be a focused entrepreneur without forgetting about the God Almighty. He also shared his terrific experience about running many businesses with large revenues.

I was also impressed by the young successful man from Bandung, Mr Reza Nurhilman. Motivated by an economic condition, he made a spicy snacks start up that cause Maicih Fever circa 2010-2011. He is now the owner of many companies under Maicih Brand. Keys to be a successful entrepreneur according to him: we have to be more confident in ourselves, leave the comfort zone, and take the risks ahead us. He said that failures is a certainty in running a business, however we have to be more resillient to face it.

Becoming a successful entrepreneur is now my dream beside being a competent specialist doctor. I admit that it will not be easy at all since it will take more efforts, sweats, and tears. Nonetheless, the great entrepreneur was once a newbie, too.

Kampanye Pemilu 2014

Masa kampanye partai politik telah dimulai. Seluruh partai berlomba-lomba untuk merebut simpati masyarakat. Tidak ada satu partai pun yang melewatkan kesempatan untuk berkampanye ini, karena jumlah suara = jumlah kekuasaan di parlemen. Yang saya lihat, metode kampanyenya pun beragam, ada yang tradisional, atau boleh dibilang jadul lah seperti “Reng Reng Reng Greng Greng, Reng Reng Reng Greng Greng“, memasang baliho, spanduk, iklan di televisi, baik lokal maupun nasional, hingga sosialisasi janji-janji manis dalam orasi dan hiburan rakyat yang tidak pantas dilakukan. Selain itu, ada juga yang melakukan kampanye dengan cara yang lebih modern, seperti mengadakan diskusi, menyampaikan program kerja yang konkret, bahkan ada pula yang berkampanye di media sosial dengan tim sukses yang militan dan fanatik sampai menjelek-jelekkan kelompok lain.

Jumlah pemilih di Indonesia ini sangat besar, jumlahnya lebih dari 180 juta jiwa dengan estimasi pemilih pemula sebesar 52 juta jiwa. Inilah yang harus diperebutkan oleh para parpol peserta pemilu. Saya menilai kategori pemilih di Indonesia ini menjadi:

1. Kader Partai Politik -> Pasti memilih partai politik masing-masing dong, jumlahnya tidak begitu banyak

2. Simpatisan Partai -> Biasanya karena kesamaan ideologi, latar belakang, agama, dan kedekatan filosofis, contohnya; pemilih PKS, PDIP, PKB. Jumlahnya banyak

3. Pemilih Kritis -> Sangat antusias terhadap pemilu, sangat aktif dalam mencari informasi pemilu, partai politik, dan para caleg. Mereka ingin tahu tentang program-program kerja para partai politik, bukan hanya janji-janji manis belaka. Mereka ini juga paham terhadap track record partai politik peserta pemilu. Jumlahnya cukup banyak. Contohnya: sebagian mahasiswa dan kaum terpelajar

4. Pemilih skeptis -> sesuai dengan namanya, pemilih ini tidak begitu mudah percaya terhadap partai politik, dan rawan sekali menjadi golongan putih jika tidak ada partai yang bisa memuaskan ekspektasi dari pemilih ini. Pemilihan metode kampanye seperti konvoi motor greng greng, yang memacetkan jalan, melanggar peraturan sangat berperan terhadap keinginan kelompok ini untuk memilih partai politik. Jumlahnya cukup banyak. Contohnya: 49 juta warga indonesia di 2009.

Mungkin ada yang bisa menambahkan klasifikasi pemilih? hehe

Terus terang belum ada partai di Indonesia yang bisa meyakinkan saya untuk memilih partai tersebut. Banyak yang meneriakkan anti golput tanpa menunjukkan program kerja yang jelas. Anti golput itu seharusnya dengan cara yang baik, bukan dengan cara membully golput itu inilah, golput itu itulah. Percayalah, orang yang cenderung golput itu merupakan orang dengan ekspektasi tinggi terhadap pemimpin/wakil rakyat, justru kalau Partai/Caleg/Pemimpin itu bagus dan sesuai kriteria, orang yang cenderung golput akan memilih untuk tidak golput. Beberapa hari terakhir di Yogyakarta, kampanye kuning, merah, putih, biru cukup mengganggu kenyamanan, menjadikan jalanan menjadi macet, melanggar lalu lintas, dan membuat polusi suara. Bahkan kampanye si merah, sampai membuat kerusakan yang cukup mengganggu. Hal ini membuat saya menjadi tidak simpati. Saya liat justru kampanye motor PKPI cukup tertib dan tenang tanpa suara greng-greng, namun program-program partai ini tidak sampai ke telinga masyarakat awam.

Saya sendiri cukup netral di Pemilu 2014, kalau ada yang bagus ya milih, kalau ga ada ya sudahlah, tidak perlu dipaksakan hahaha. Sesuai dengan jargon pemilu lah, bebas dan rahasia.

Seri Teman Inspiratif (1)

Kali ini saya akan menulis -singkat saja- tentang teman yang menurut saya inspiratif, kriterianya ya cuma satu: bisa menginspirasi saya dalam hal apapun juga. Okey yang pertama saya akan menulis tentang Vega Pratiwi

Image.

Vega Pratiwi adalah seorang perempuan berkebangsaan Indonesia, lahir pada tanggal 4 Maret 1990. Dia ini menginspirasi saya dengan kegigihannya. Mimpinya sangat banyak dan kalau sudah mempunyai mimpi, usahanya akan sangat giat untuk mencapai tujuannya.

Vega dulunya merupakan adik kelas saya zaman SMP, tapi kami tidak saling mengenal. Dia menceritakan, dulu pada saat seleksi masuk SMP 5, *uhuk*, SMP paling favorit di Kota Yogyakarta, dia belajar mati-matian dan akhirnya bisa diterima. Katanya dulu peringkat masuknya termasuk yang akhir2, namun ketika lulus SMP, NEMnya termasuk yang tertinggi -tidak terlepas dari kegigihannya-.

Vega ini orangnya juga multi-talented, ketika SMA, dia adalah salah satu ketua osis di angkatan- seorang organisatoris, selain itu suaranya juga merdu, sering bernyanyi di acara-acara kampus dan menghibur teman-teman. Juga kalau belajar bareng, dia tidak segan-segan mengajari teman-teman yang belum paham. Oleh karena itu, temannya sangat banyak dan tersebar di seluruh penjuru Yogyakarta.

Image

Ketika kuliah, Vega sudah tidak bergantung pada orang tua untuk membayar biaya kuliahnya. Dia berhasil mendapatkan beasiswa Tanoto Foundation yang jumlahnya cukup besar, selain itu Indeks prestasinya termasuk yang tertinggi di angkatan, tidak lepas dari doa teman-teman yang sering diajari olehnya hehe.

Besok tanggal 5 April adalah saat pengambilan sumpah dokter bagi teman2 Batch 1 2014. Impian menjadi dokter akhirnya datang juga. Semoga beasiswa LPDP yang di-apply bisa tembus dan diterima kuliah s2 di Belanda Veg. Sukses selalu.