Getting Closer to your Dentist *could* keep Cardiologist away

pepatah dari Inggris: an apple a day keeps the doctor away.

Judul artikel ini jelas terinspirasi dari pepatah di atas.

Jadi, 6 bulan yang lalu, ketika sedang stase bangsal jantung, aku pernah menangani pasien dengan diagnosis infective endocarditis (IE). Sesungguhnya aku sudah lama ingin menulis tentang ini, tapi selalu kelupaan hahaha.  IE adalah kondisi infeksi bakteri yang memasuki lapisan dalam dinding jantung dan pembuluh melalui aliran darah. Gejalanya tidak begitu jelas. Namun, yang sering muncul adalah demam berkepanjangan, flu like symptoms, keringat malam, terjadinya bising baru pada jantung melalui pemeriksaan fisik, dan ada penampakan vegetasi pada pemeriksaan ekokardiografi. Infeksi ini termasuk mengancam nyawa dan harus segera ditangani dengan antibiotik dosis tinggi via suntikan dalam beberapa minggu.

Pelacakan sumber infeksi pasien dilakukan di bangsal. Tidak begitu sulit untuk mencari port the entry pasien ini. Salah satu sumber infeksi yang paling sering adalah infeksi gigi dan benar saja, kesehatan gigi mulut pasien ini tidak baik: banyak lubang dan karies gigi. Kami mengonsultasikan ke dokter gigi dan dilakukan penanganan pembersihan gigi dan rekomendasi untuk mencabut 1 atau 2 gigi yang terinfeksi. Pasien dirawat dengan antibiotik injeksi selama hampir 1 bulan, keadaan membaik -> pasien boleh pulang dan direncanakan untuk operasi. Nah, kemarin pasien mondok lagi untuk operasi dan aku baru teringat untuk menulis tentang topik ini hehe.

Ketika merawat pasien ini 6 bulan yang lalu, gigi gerahamku ternyata juga ikut lubang :’) (sungguh menghayati). Aku baru sadar ketika bangun tidur bisa memasukkan lidah ke bagian gigi geraham. Ini merupakan pukulan telak bagiku :(, dari dulu gak pernah punya masalah dengan gigi, selain karena layout yang cukup rapi, juga rajin sikat gigi 2 kali sehari.

Aku harus memilih untuk menghadapi dua ketakutan; ketakutan menghadapi dokter gigi dengan bor-nya yang serem, atau ketakutan terkena IE yang mengancam nyawa seperti pasienku di bangsal. Akhirnya aku memilih untuk memberanikan diri periksa ke dokter gigi.

dentist-drill

dalam bayanganku periksa ke dokter gigi itu seperti ini

Kebetulan, aku punya teman seorang dokter gigi. Beliau berpraktik di sebuah klinik di Ring Road Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alhamdulillah beliau sangat ramah, murah senyum, dan meruntuhkan ketakutan pasien akan prosedur gigi yang bikin keder terlebih dulu :D. Setelah anamnesis dan pemeriksaan gigi singkat, diputuskan untuk menambal gigiku yang lubang. Katanya prosedurnya cukup sulit karena sudut yang tajam (aku ga begitu paham hahaha). Namun, alhamdulillah prosedurnya tidak sakit dan dilakukan dalam waktu yang tidak begitu lama. Walaupun belum lama lulus, tangannya lincah dan terampil dalam menambal gigi. Sampai sekarang alhamdulillah belum (semoga tidak) ada keluhan gigi yang ditambal kemarin. Bisa menikmati makanan tanpa takut ada sisa makan yang terjebak di lubang gigi adalah salah satu nikmat kecil yang harus disyukuri.

Mudah-mudahan aku bisa mencontoh keramahan beliau dalam membangun hubungan interpersonal dengan pasien.

Selain bisa mengurangi kemungkinan terkena IE, merawat kesehatan gigi (termasuk periksa gigi ke dokter gigi tiap 6 bulan) bisa mengurangi inflamasi periodontitis yang merupakan salah satu faktor risiko atherosclerosis (pembentukan plak pada dinding arteri). So, getting closer to your dentist *could* keep cardiologist away.

Advertisements

You are greater than your addiction.” – Nasia Davos

Di sela-sela kesibukan dan kegalauan merevisi paper laporan kasus yang sudah harus diselesaikan untuk maju bulan depan, pikiranku terganggu oleh keinginan untuk menulis tentang suatu kejadian sedih yang terjadi saat jaga ruang intensif jantung di akhir libur lebaran kemarin untuk pembelajaran kita bersama.

20 Juni 2018, saat itu ketika akan meng-echo pasien baru ruang intensif jantung, tiba-tiba ada keluarga pasien, seorang bapak bertanya kepadaku, “Dok, bantu saya ini bagaimana saya mengurus jenazah anak saya?”. Aku pun tertegun, wajah bapak berusia 50an tahun ini begitu sedih, badannya lunglai lemas ditinggal pergi anaknya selama-lamanya. Keluarga yang lain pun tidak kalah terpukul. Semalam sebelumnya memang jadwalku jaga ruang intensif. Pasien diawasi secara ketat semalaman, dan bapak serta ibu pasien bergantian menemaniku. Seorang laki-laki berusia 28 tahun, tidak sampai setahun lebih tua dariku, dalam keadaan kritis. Pasien ini sedang mudik lebaran dan mengalami nyeri dada hebat. Sebelumnya flashback sedikit, di ruang gawat darurat RS Sardjito, pasien didiagnosis dengan serangan jantung tipe kenaikan segmen ST. Serangan jantung pada ini merupakan tipe serangan jantung terberat yang mematikan otot-otot jantung sehingga menyebabkan gangguan pompa darah ke seluruh tubuh, paru-paru terendam cairan, serta menurunkan tekanan darah secara drastis. Penanganan lebih lanjut pasien dibawa ke laboratorium kateterisasi jantung untuk melihat kondisi penyumbatan di arteri koronernya.  Di laboratorium kateterisasi, didapatkan penyumbatan hebat di arteri koroner utama kiri (arteri yang menyuplai aliran darah ke hampir semua otot jantung bagian depan dan kiri). Penjendalan darahnya disedot, namun ternyata kondisi darah pasien sangat kental, sehingga penjendalan darah ini selalu terbentuk kembali (thrombus begets thrombus). Pasien kemudian diberikan pengencer darah dan dirawat di ruang intensif jantung. Fast forward kondisi pasien tidak pernah stabil. Pasien sesak dan tekanan darah selalu rendah dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir karena cardiogenic shock walaupun dengan manajemen yang maksimal.

Kasus ini mungkin masih jarang terjadi, namun trend tidak menunjukkan kenyataan yang bersahabat. Kasus serangan jantung saat ini mulai sering terjadi pada dewasa muda. Mungkin kita semua penasaran, kejadian serangan jantung pada dewasa muda berapa persen sih? Menurut penelitian dari Alioglu et al, 0,4% pasien serangan jantung terjadi pada pasien berusia di bawah 30 tahun.

Pada pasien ini, faktor risikonya adalah merokok  dan dislipidemia. Pasien telah merokok dari usia belasan tahun dan merupakan perokok berat. Selain itu juga pasien mengalami overweight. Bukan bermaksud untuk menyalahkan rokok ya, tapi menurut penelitian Teixeira et al di tahun 2010, 82% serangan jantung pada usia di bawah 30 tahun memang terjadi pada perokok. “Hey, tapi kan daya tahan tubuh orang berbeda-beda”, I know, makanya masih ada 18% lain terjadi pada bukan perokok and we are all eventually will die. Namun kalau bisa dicegah, kenapa tidak menghilangkan faktor risiko tersebut? Usia di bawah 30 tahun masih bisa berkarya dan bermanfaat kepada bangsa, negara, dan agama, dalam jangka waktu yang lebih lama bukan? Even, jika mengalami serangan jantung dan bisa survive, keadaannya tidak akan sama lagi seperti sedia kala. Pasien harus mengonsumsi obat-obatan jantung seumur hidup untuk mencegah serangan jantung ulang dan menjadi pengeluaran besar bagi negara (BPJS, ehm, dalam jangka waktu yang lama padahal bisa dicegah).

Menurutku salah satu aspek yang penting adalah jangan memulai merokok. Aku beruntung dibesarkan oleh orang tua bukan perokok. Bapakku tidak ikut-ikutan kakekku yang merupakan perokok berat. Beliau tidak ingin pengeluaran untuk rokok mengurangi pembiayaan masa depan anak. Akan tetapi, jika sudah terlanjur memulai dan kecanduan, kuncinya adalah keinginan kuat untuk melepaskan diri dari belenggu rokok. Ingat, you are greater than your addiction.

a life changing moment

pd08

skuad pd08 ugm januari 2017

Semenjak tahun 2014, ketika saya dilantik menjadi dokter umum, sudah terbersit di pikiran saya untuk mempersiapkan ke jenjang pendidikan lanjutan. Namun, persiapan ini mendapatkan tantangan  dari berbagai macam unfortunate event seperti tidak diakuinya Ujian Kompetensi Dokter Indonesia periode saya (diselenggarakan oleh AIPKI – Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia) oleh kolegium Ikatan Dokter Indonesia, sehingga harus mengambil ujian lanjutan untuk dapati diakui oleh IDI.

Bukan hanya kami harus ujian 2x. Secara konsekuensi, pelaksanaan internsip dokter pun menjadi molor 9 bulan.  Namun, pada akhirnya banyak yang bersyukur pelaksanaan internsip ini ditunda karena banyak yang menikah :p, menjadi anak magang di suatu departemen spesialisasi idaman, berhasil membesarkan usahanya sendiri, jalan-jalan ke luar negeri, ataupun bisa menganggur gak jelas karena gak tau mau ngapain (oke, ini sedih).

Ketika akhirnya menjadi dokter internsip, saya banyak belajar dari pendamping, dr Rizka Irfansyah dan dr Ari Eko, maupun dokter definitif tempat saya bekerja dalam melakukan penatalaksanaan kegawatdaruratan. Tentunya ini merupakan bekal yang baik untuk menjadi dokter umum mandiri kelak.

Setelah selesai internsip, saya mencoba merantau ke Kalimantan Timur, tepatnya di RSUD Balikpapan. Rumah sakit ini merupakan fasilitas kesehatan yang masih baru, gedungnya  bagus, dan cukup mewah untuk ukuran rumah sakit pemerintah. Kelas perawatan 3 di rumah sakit ini dibatasi hanya untuk 5 orang. Bahkan terdapat AC di seluruh kelas dan shower panas dingin :p. Saya sangat bersyukur bisa sempat bekerja di RSUD dan sangat merekomendasikan kepada teman-teman yang baru selesai internsip untuk paling tidak pernah bekerja di IGD rumah sakit milik pemerintah selama setahun.

Bekerja sebagai dokter umum memberi saya kesadaran, bahwa menjadi dokter umum itu membutuhkan kepintaran dan kejelian untuk menguasai ilmu kedokteran yang sangat luas paling tidak untuk mengenali kasus-kasus kedaruratan dan saya memahami keterbatasan saya atas kemampuan untuk hal tersebut. Dari kasus anak, obstetri ginekologi, bedah, penyakit dalam, saraf, mata, telinga, bahkan kejiwaan. I don’t know, it’s just too broad for meand I don’t have the ability to  be the jack of all trades, master of none.

Kembali ke persiapan untuk mendaftar sekolah, saya mempersiapkan ini sejak masa internsip karena ketika itu saya memperkirakan, sesibuk-sibuknya masa internsip, pasti lebih sibuk ketika sudah menjadi dokter definitif  dan biaya untuk ke Jawa sangat mahal hanya sekadar untuk tes acept dan paps.  Bertanya kepada senior yang telah masuk terlebih dahulu merupakan salah satu langkah awal untuk mencari tahu tentang seluk beluk departemen yang dituju. Saya berterimakasih kepada mas Dama yang banyak memberikan masukan mengenai persiapan dan hal-hal apa yang perlu dimaksimalkan. Persiapan jauh-jauh hari merupakan kunci. Teman saya Ahmad Ramdoni sudah khatam Salter sejak zaman koas, Mohammad Pradhana menyalurkan hobi bolanya bersama bagian anestesi sejak S1, ataupun Pangeran Akbar Syah yang telah menguasai kardiologi sejak masih TK.

Persiapan yang saya lakukan sejak internsip adalah mulai mengikuti simposium dan workshop berskala regional dan nasional, ujian AcEPT (Academic English Proficiency Test) dan PAPs (Potensi Akademik Pascasarjana) di UGM, serta mencari rekomendasi untuk mendaftar spesialis (minimal 2). Tes-tes seperti itu jangan dianggap sebelah mata karena juga diperhitungkan. Sebisa mungkin AcEPT 350 atau TOEFL 600 dan PAPs 650 atau mendekati (semakin tinggi semakin baik).

Alhamdulillah  diberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan dokter spesialis di UGM. Mudah-mudahan bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk belajar dan kelak mengabdikan keilmuan kepada masyarakat. It’s just the beginning, tantangan ke depan akan semakin berat. Mengutip kata-kata teman saya TaufikIt’s a life changing moment.

A Superfood for Cardiovascular Health

I promised you in my last post that I would write about healthy foods later.

As a doctor myself, I often educate my patients that they should maintain healthy lifestyles for themselves.

Maam, you ought to exercise at least 3 times a week @ 20-30 minutes, eat balanced diet, lower your blood pressure, cease smoking, and keep a lean Body Mass Index

Actually, many sources, such as this, adds drinking in moderation as cardioprotectant and neuroprotectant. However, as a Moslem, I would not recommend moderate drinking as our method in maintaining a healthy heart.

Surely I would be in an awkward moment if I preach something I didn’t do. It is stated in the Holy Qur’an (2:44), Translation: Do you order righteousness of the people and forget yourselves while you recite the Scripture? Then will you not reason? 

Be the first person to benefit from new knowledge you acquire before sharing it with others – practice what you preach.

I know that it’s challenging for my profession, doctors (especially resident doctors), to find the time allocated for sleeping and eating healthily, let alone exercising, hahaha, but we are the role model for the society to be healthy.

I do not want – at least for me- my patients would tell me like this

I found your preaching is just an utter nonsense Doc, you are overweight (or underweight), smoking cigarettes, and your meal time is irregular.

I understand that some of you, 18-30 years of age, would argue

Hey, we are still young, chances are the only time we really worry about our heart is when we are going through a breakup, or trapped in a friend zone, or rejected by our beloved one 😛

You can always google “Takotsubo Cardiomyopathy” then 😀

As a matter of fact, more than one-half of young adults aged 18–24 have at least 1 coronary heart disease (CHD) risk factor and nearly one-quarter have advanced atherosclerotic lesions.

Heck, even having slightly elevated blood pressure in the mid-20s may increase the risk of heart trouble in the Middle Age. (Normal <120/80)

every choice you make today is also a choice for tomorrow

Okay, that’s enough for the introduction..

Do you know one of the best food for your cardiovascular health?

It is approved by The FDA in 1997 to claim that it could lower cholesterol level and may reduce the risk of heart disease.

In 2004 the United Kingdom Joint Health Claims Initiative (JHCI) allowed a cholesterol-lowering health claim for this food.

In 2008, a review stated that consumption of this food products significantly reduces total cholesterol and low-density lipoprotein cholesterol concentrations without adverse effects on high-density lipoprotein cholesterol or triglyceride concentrations.

It is The Oatmeal..

For most Indonesian people, oatmeal is not delicious, because it is not tasty at all (or anyep in Bahasa Jawa). You can find many good recipes for your oatmeal here, nevertheless I’m content with oatmeal + Milo in the morning.

If the FDA-approved health claim for this food still can not convince you, this randomized controlled clinical trial of oatmeal consumption vs noodle consumption on blood lipids of urban chinese adults with hypercholesterolemia founds that Total-, LDL-cholesterol and waist circumference decreased significantly in the oat group compared to the control while HDL-cholesterol decreased significantly in the control group versus the oat group.

In Sumarry, eating a bowl of oatmeal in the morning helps

  1. Lower Total Cholesterol and LDL-Level without adverse effects on HDL-C and triglyceride
  2. Lower waist circumference
  3. Lower weight: Oatmeal is a source of fiber. That means when you eat oats for breakfast, you’re going to feel full for a long time
  4. Lower blood pressure, by preventing atherosclerosis (hardening of blood vessel wall)

Thanks for reading, keep healthy..

Social Media, Exercise, and Healthy Lifestyles

Hello, it’s been a while since the last time I wrote in this blog. Actually, I miss writing randomly, and because now I have some time to spare, I decide to write about something very happening yet so healthy.

Nowadays, modern lifestyles give rise to social media exposure. Many people share their activities to their friends about travelling, eating, getting expensive stuffs, exercising, etc. I found that these phenomena are intriguing and interesting at the same time.

I will be focusing my post about modern healthy lifestyles…

When I was in my teen age, i didn’t really like sports. I was a thin boy with short stature. Exercising was not a trend back then and I just spent my time playing computer games and reading automotive magazine. I wish I were a more athletic teen, because a study conducted by Catherine L Davis, circa 2011, found that exercise improves executive function and achievement and alters brain activation in overweight children. Another study concluded that- this time is a peer reviewed systematic review- aerobic physical activities are positively associated with cognition, academic achievement, behavior, and psychosocial functioning outcome, although more rigorous trials is needed.

Contrary to popular belief that states an athletic person tends to get lower marks in school, it’s the opposite actually. If the athletic students study as hard as the nerds, chance he’ll get better scores on tests.

Since the social media era, I could get more knowledge about what my friends are doing for exercise. For example, my friend Raymond Andre Muzetta, he posted about his activities in the gymnastics, and asked me to join him to build a more imposing physique. Another friend of mine, Mr Pangeran Akbar Syah, is an avid runner. He often posts his running activity with Nike+ apps, with an average 5 kilometers distance in 25-30 minutes. No wonder he is also very smart.

I’m motivated by my friends exercises’ to stay in shape and to keep my mood up. Taufan Sugiharto and Afandi Amrullah, introduced cycling to me. I’m really enthusiastic with it, and slowly will become my hobby. Riding my bike in the morning from my house to Universitas Gadjah Mada and back to my house IS so refreshing.

Don’t forget to balance exercise with healthy foods. I will post about healthy foods later..

One of The More Eligible Bachelor

“Always opt for the hardest way”

It is been understood by the clinical rotation group of me, The R12, that the quotation above belong to a certain highly confident yet serious friend: Taufiqur Rakhim Aditra. A multitalented and highly motivated guy, Taufiq has achieved something that many people could only imagine.

Taufiq boasts a glittering curriculum vitae. In 2007, he got accepted in the Chemical Engineering of University of College London, beating thousands of applicants in a highly fierce entrance examination. Had he taken the opportunity, he would have been a handsomely paid young excecutive right now. Instead, pursuing the medical doctor degree at Universitas Gadjah Mada was the path he elected.

Already a mature man at the age of twenty six years old, He possesses many distinguished skill sets. One of them is his ability to learn something in a little time. Because of his swift learning process, he obtained the highest score in Advanced Trauma Life Support certification at Universitas Airlangga after read the manual book in only 3(!) days period.

Dedit, one of his nickname, is endowed with a capability to radiate positive aura to influence his peer to stay optimist and motivated. He joined the IELTS class on CILACS, aiming for a-9-score, the highest possible score on IELTS, and inspiring Ido and me to be more ambitious yet realistic.

Becoming a Cardiothoracic or Oncologic surgeon is one of his reverie. He is blessed with an aptitude to tackle problems even in their emergency circumtances. Furthermore, equipped with a very good academic competence, he intends to pursue a specialist qualification in the United States by taking United States Medical Licensing Examination in near future.

Taufiq, a devoted moslem, got the inspiration to pray 5-times-a-day in the mosque from his-soon-to-be father-in-law. A practice that, according to him, will help his journey in this world and the hereafter.

He can be followed on twitter @dedit_aditra and Facebook

also a guitarist

also a skillful guitarist!

Young Entrepreneurs Show! UGM 2014

the poster of YES_UGM 2014

the poster of YES_UGM 2014

Last week, a good friend of me came up with an idea to attend an event organized by students of Business and Economic Faculty of Universitas Gadjah Mada. He said that the event, a symposium about entrepreneurship, would give us a better understanding about how to build a start up from the scratch.

Deliberately wanting to obtain the principle of running a business empire, I looked for information of the event called Young Entrepreneur Show 2014. It is stated in the poster that Gita Wiryawan, Former Minister of Trading, and Sofyan Djalil, current Coordinator Minister of Financial Affairs, will be the keynote speakers. Some high profile entrepreneurs, such as Saptuari Sugiharto and Reza Nurhilman, would also share their invaluable experience.

The Young Entrepreneurs Show was held today, 08.30-18.00. The problem was Gita Wiryawan and Sofyan Djalil could not attend it. Since the duo, in my opinion, was the main attraction of the event, I could not help but felt a little bit dissapointed. Nevertheless, the show must go on.

The first session was given by an entrepreneur from Jepara. Starting from a cleaning service job at California Fried Chicken in 1997, Mr Nurul Atik is now the owner of Rocket Chicken, a fried chicken serving fast food restaurant, that had gone from 1 branch to 152(!) branches in just 4 years span (2010-2014).

Mr Saptuari Sugiharto, one of my favorite entrepreneur, was the speaker of the second session. He, humble and highly motivated, gave us a great new insight on how to be a focused entrepreneur without forgetting about the God Almighty. He also shared his terrific experience about running many businesses with large revenues.

I was also impressed by the young successful man from Bandung, Mr Reza Nurhilman. Motivated by an economic condition, he made a spicy snacks start up that cause Maicih Fever circa 2010-2011. He is now the owner of many companies under Maicih Brand. Keys to be a successful entrepreneur according to him: we have to be more confident in ourselves, leave the comfort zone, and take the risks ahead us. He said that failures is a certainty in running a business, however we have to be more resillient to face it.

Becoming a successful entrepreneur is now my dream beside being a competent specialist doctor. I admit that it will not be easy at all since it will take more efforts, sweats, and tears. Nonetheless, the great entrepreneur was once a newbie, too.